Sejarah wanita tak pernah lepas dari peranan wanita di
dalamnya, jika kita lihat kilas balik sejarah, ternyata wanita mempunyai
peranan yang sangat besar dan penting. Bahkan wanita mempunyai andil dalam
pembentukan sejarah itu sendiri, dimulai dari sejarah awal peradaban manusia
dibentuk, tatkala adam diciptakan, dia hidup sebatangkara tanpa ada yang
menemani hanya bertemankan mahkluq-makhluq surga dengan segala keindahannya.
Tapi surga yang begitu indah tak mampu menghilangkan
rasa sepinya, akhirnya diciptakanlah hawa. Dengan kehadiran hawa, semua
kesepian dan kebosanan hidup yang dialami oleh adam sirna semuanya. Disini kita
melihat bahwa tak ada keindahan yang lebih indah bagi seorang pria melainkan
seorang wanita, dan dunia kan
terasa lengkap serta terasa lebih bermakna kala ditemani oleh seorang wanita.
Dari awal pertama kali hawa diciptakan, sejarah mencatat bahwa wanita mempunyai peranan penting dalam membentuk sejarah, walaupun bermain dibelakang layar namun merekalah yang sebenarnya menggerakan sejarah. Kita menyaksikan bahwa terjerumusnya adam dalam kemaksiatan dikarenakan ajakan dan rayuan hawa sehingga dihukumlah adam beserta hawa dan diturunkan ke bumi, inilah dosa pertama kali manusia yang disebabkan wanita.
Dibalik kesuksesan dan kehancuran seseorang terdapat tangan-tangan wanita. BJ habibie, dibalik kehebatan dan kesuksesannya ternyata disebabkan oleh dukungan dan peran sang istri. Dibalik kegigihan dan keteguhan nabi besar Muhammad saw dalam menyebarkan islam terdapat peranan khodijah dalam mendukung dan menenangkan hati beliau dikala sedang galau.
Tidak dapat dinafi’kan bahwa hampir dibalik seluruh kesuksesan seseorang terdapat peran wanita di dalamnya, namun sebaliknya, dibalik kehancuran seseorang juga terdapat tangan-tangan wanita yang bermain dibelakangnya.
Napoleon Beonaparte, sang penakluk daratan eropa, penguasa abad pertengahan, tak terkalahkan ternyata takluk dihadapan monalisa. Dan berakhirnya masa kejayaan serta keemasannya disebabkan olehnya.
Alexander The Great, sang kaisar imperium romawi, penakluk hampir sepertiga dunia, penggabung antara romawi barat dan romawi timur, kekuatanya tak ada duanya, hancur disebabkan Cleopatra sang ratu mesir.
Ramses IV (menurut suatu versi Ramses V) Firaun Mesir, membunuh semua anak yang lahir kecuali satu dikarenakan Asiah dan anak ini yang akhirnya menghancurkan kerajaannya
Dapat dipahami jika semua ini terjadi sebab pengaruh seorang wanita sangatlah luar biasa. Karena wanita seorang pemuda bisa terjun ke dalam jurang yang terjal dan juga disebabkan seorang wanita seorang presiden bisa menjual negaranya dan juga dikarenakan wanita, seorang muslim bisa menjual agamanya.
Karena begitu kuatnya pengaruh wanita, seseorang tidak bisa menguasai dirinya sendiri tapi dikuasai oleh sang wanita. Perlu diingat bahwa salah satu sebab dibalik kesuksesan dan kehancuran seseorang adalah wanita. Oleh karena itu jika seseorang mempunyai istri yang sholehah atau kurang baik maka dapat diprediksikan apa yang akan terjadi.
Kiprah wanita dalam sejarah
menorehkan hasil yang gemilang. Wanita difahami telah memberikan andil
yang besar dalam bidang intelektual klasik. Banyak ditemukan guru-guru
agama, perawi hadits, bahkan sufi wanita. Siti Aisyah dikenal sebagai
pembawa hadist yang sangat berarti, bahkan para shabahat nabi belajar
padanya. Dalam sejarah juga diketemukan sufi Rabi'ah Al-Adalawiyah
yang dalam maqam sufi dikenal sebagai wanita
yang sangat berpengaruh di jamannya dengan segala
kontroversi yang menyelimutinya.
Disamping berperan
dalam agen intelektual dan kemuliaan, wanita memegang peranan
dalam proses da'wah Islam. Wanita seperti Asma bin Abu
Bakar merupakan contoh bagaimana seorang wanita dapat memberikan
andil yang sangat berarti untuk menyusun strategi
hijrah nabi.
Karya-karya besar
wanita ini menarik para ulama Islam untuk menulis biografi
tentang peranan wanita dalam jamannya. Tidak kurang
dari 35 ulama besar menulis tentang wanita dan segala
perjuangannya. Ulama seperti Ibnu Hajar al-Asqalani (852/1449) menulis kamus
biografis pertama tentang semua orang muslim terkemuka yang meninggal
pada satu abad tertentu Islam -abad ke delapan Hijrah/Keempat belas
Masehi.
Jumlah dan proporsi wanita
yang terekam ke dalam tulisan ulama meliputi para sahabat Shahabat
merujuk kepada gender laki-laki dan shahabiah merujuk kepada
gender perempuan. Artian secara umum generasi
shahabat adalah orang-orang yang hidup semasa nabi
yang mengakui, menerima Islam dan menerima segala
konsekuensinya, baik usia ketika itu sudah dewasa dan kecil.
Shahabat dalam pandangan kaum Sunni menempati
kedudukan mulia, sedangkan dalam pandangan kaum Syi'ah para
sahabat menyimpang setelah Nabi wafat.
Dari perspektif ini
terlihat bahwa sejarah memberikan peranan yang besar. Peranan
besar wanita terlihat pertama kali ketika Siti Khadijah
(istri nabi pertama) sebagai pengikut pertama
Muhammad, bukan dari laki-laki-laki. Kajian
ini telah ditelaah oleh Ibnu Sa'ad secara panjang
lebar, sepanjang dengan kajian tentang kajian sahabat.
Al-Qur'an sebagai
sumber yang paling otoritatif dalam Islam, memberikan uraian
yang panjang lebar, bahkan salah satu suratnya
merujuk langsung kepada wanita (surat An-Nisa'). Banyak
ditemukan bahwa wanita menjadi sebab turutnya ayat,
baik dalam kapasitas peringatan ataupun
dalam kapasitas memberikan kejelasan.
Ayat tentang
wanita yang berkait dengan peringatan adalah
tentang ayat Hijab dalam Al-Ahzab dan An-Nur, dan ayat
tentang tuntutan harta istri nabi, sedangkan ayat
tentang sanjungan dan kejelasan adalah
ayat yang memberikan keterangan tentang kesucian Aisyah
yang sempat didiamkan Nabi dalam surat. Meski kita lihat setting utama yang
digunakan adalah istri-istri nabi.
Bahkan dalam keluarga
Nabi sendiri, anak wanita menjadi sangat dominan. Nabi
pernah mempunyai anak laki-laki (Ibrahim bin Muhammad) akan
tetapi meninggal dunia ketika masih remaja.
Sedangkan anak yang perempuan sebanyak
4 orang, dan yang paling utama adalah Fatimah
Zahrah. Bahkan dari generasi Fatimah ini diklaim sebagai generasi yang akan
melahirkan keturunan yang paling baik dan ma'shum.
Masalah ini dapat
dilihat dengan kemunculan mazhab politik Syi'ah yang kemudian
menjadi mazhab Aqidah. Bahkan dalam sejarah varian dari mazhan Syi'ah ini
mengambil nama Fatimah az-Zahra sebagai varian dari Syiah.
Lebih jauh mazhab ini mampu mendirikan sebuah pemerintahan
Fatimiyah Isma'liyyah di Mesir.
Kedudukan wanita mendapat
posisi yang menakjubkan dalam sejarah, orang yang
pertama kali mendapat syahadah adalah
wanita bukan pria. Orang itu adalah Sumayyah binti
Khubbat, yang meninggal di Makkah dibunuh oleh
Abu Jahl. Bahkan banyak wanita menjadi perantaraan
turunnya peristiwa mukjizati, maupun
ramalan masa mendatang.
Berikut ini adalah selayang pandang kehidupan serta
peranan wanita sebelum, menjelang dan sesudah kehadiran Al-Qur’an.
Prof. Dr. H.M. Quraish Shihab mengatakan bahwa sejarah
menginformasikan sebelum turunnya Al-Qur’an terdapat sekian banyak peradaban
besar, seperti Yunani, Romawi,
India dan Cina.
Dunia juga mengenal agama-agama seperti Yahudi, Nasrani, Buddha, Zoroaster
(agama yang di anut oleh bangsa iran
purba yang menyembah Ahoroe Mazda / Tuhan Kebajikan dan Aiera Mainyor Ahriman.)
dan sebagainya.
Masyarakat Yunani yang terkenal dengan
pemikiran-pemikiran filsafatnya, tidak banyak membicarakan hak dan kewajiban
wanita. dikalangan elitenya, wanita-wanita ditempatkan (disekap) dalam
istana-istana. Dan kalangan bawah, nasib wanita sangat menyedihkan. Mereka
diperjualbelikan, sedangkan yang berumah tangga sepenuhnya berada dibawah
kekuasaaan sang suami. Mereka tidak memiliki hak-hak sipil, bahkan hak waris
pun tidak ada. Pada puncak peradaban Yunani, wanita diberi kebebasan sedemikian
rupa untuk memenuhi kebutuhan dan selera lelaki. Hubungan seksual yang bebas
tidak dianggap melanggar kesopanan, tempat-tempat pelacuran menjadi pusat-pusat
kegiatan politik dan sastra/ seni.
Dalam peradaban Romawi, wanita sepenuhnya berada dibawah
kekuasaan ayahnya. Setelah kawin, kekuasaan tersebut pindah ke tangan suami.
Kekuasaan ini mencakup kewenangan menjual, mengusir, menganiaya dan membunuh.
Keadaan tersebut berlangsung terus sampai abad ke-6 Masehi. Segala hasil usaha wanita, menjadi hak milik
pihak keluarga laki-laki. Pada zaman Kaisar Constantine terjadi sedikit
perubahan yaitu dengan diundangkannya hak pemilikan terbatas bagi wanita,
dengan catatan bahwa setiap transaksi harus disetujui oleh keluarga (suami atau
ayah).
Peradaban
Hindu dan Cina tidak lebih baik dari peradaban-peradaban Yunani dan Romawi. Hak
hidup seorang wanita yang bersuami harus berakhir pada saat kematian suaminya,
dengan kata lain istri harus dibakar hidup-hidup pada saat mayat suaminya
dibakar. Ini baru berakhir pada abad ke-17 Masehi. Wanita pada masyarakat Hindu
ketika itu sering dijadikan persembahan atau sesajen untuk yang mereka namakan
dewa-dewa. Bahkan petuah sejarah kuno mereka mengatakan bahwa “racun, ular dan
api tidak lebih jahat daripada wanita”. Sedangkan petuah Cina kuno mengajarkan
“Anda boleh mendengar pembicaraan wanita tetapi sama sekali jangan mempercayai
kebenarannya”.
Dalam
pandangan sementara pemuka/ pengamat Nasrani ditemukan bahwa wainta adalah
senjata Iblis untuk menyesatkan manusia. Disepanjang abad pertengahan, nasib
wanita tetap sangat memprihatinkan, bahkan sampai tahun 1805 perundang-undangan
Inggris mengakui hak suami untuk menjual istrinya dan sampai pada tahun 1882
wanita inggris belum lagi memiliki hak pemilikan harta benda secara penuh dan
hak menuntut ke pengadilan.
Ketika
Elizabeth Blackwill yang merupakan dokter waita pertama di dunia menyelesaikan
studinya di Geneve University pada 1849, teman-temannya yang bertempat tinggal
dengannya memboikotnya dengan dalih bahwa wanita tidak wajar memperoleh
pelajaran. Bahkan ketika sementara dokter bermaksud mendirikan Institut
Kedokteran untuk wanita di Philadelphia, Amerika Serikat, Ikatan Dokter
setempat mengancam untuk memboikot semua dokter yang bersedia mengajar
disana.(M. Quraish Shihab, 2007:297)
Lain halnya dengan Benazir Bhutto sang perempuan yang
memenangkan pemilihan Perdana Menteri
16 Nopember 1988. Terpilihnya
beliau saat itu benar-benar ditolak oleh para aktifis islam bahwa kemenangan
Benazir Bhutto adalah sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam, karena
dalam hukum Islam wanita tidak diperbolehkan menjadi pemimpin dalam kehidupan
public, dan belum pernah
sebuah negara muslim didalam sejarah diperintah oleh seorang wanita.(Nur Syahbani, dkk, 2001:20)
Pembahasan
yang menyangkut keberadaan wanita di dalam atau di luar rumah dapat bermula
dari surat al ahzab ayat 33, yang artinya :
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu
berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan
dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.
Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul
bait3
dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.
Dan
hendaklah kamu tetap di rumahmu, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku
seperti orang-orang jahiliyah terdahulu
Menurut
Al-Qhurthubi yang di kenal sebagai pakar tafsir khususnya dalam bidang hukum
menulis antara lain:
“Makna
ayat di atas adalah perintah untuk menetap di rumah walaupun redaksi ayat ini
di tujukan kepada istri-istri Nabi Muhammad SAW tetapi selain dari mereka juga
tercakup dalam perintah tersebut”dan agama di penuhi oleh tuntunan agar
wanita-wanita tinggal di rumah, dan tidak keluar rumah kecuali karena keadaan
darurat. (M.Quraish Shihab, 2007:303)
Seorang
pemikir ikhwan al-muslimun Muhammad Qurthubhi dalam tulisannya yakni ayat
tersebut bukan berarti bahwa wanita tidak boleh bekerja karena islam tidak
melarang wanita bekerja, hanya saja islam tidak senang mendorong hal tersebut,
islam membenarkan mereka bekerja sebagai darurat dan tidak menjadikannya
sebagai dasar”
Sedang
menurut Dr . Muhammad Baltaji, dalam bukunya Kedudukan Wanita dalam
Al-Qur’an dan As-Sunnah, bahwa tidak ada ayat (alqur’an , arab) yang
melarang perempuan sebagaimana lelaki meniti karir yang tepat untuknya. Bahkan
sebaliknya, ada ayat al-qur’an yang mengisyaratkan perlunya kerja sama antara
lelaki dan perempuan dalam hal-hal yang memberi kemaslahatan umum, merujuk
sebagaimana isi ayat dalam QS. At-Taubah :71-72
Dan orang-orang yang
beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi
sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari
yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan
Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Allah
menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat)
surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan
(mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. dan keridhaan Allah adalah
lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.
“Sebagian menjadi penolong bagi sebagian yang
lain” dalam ayat pertama ialah mereka saling menolong dan mengukuhkan untuk
mewujudkan kemaslahatan.
Pendapat
di atas masih di kembangkan lagi oleh sekian banyak pemikir Muslim, dengan
menelaah keterlibatan perempuan dalam pekerjaan pada masa nabi SAW seperti Ummu
Salim binti Malhan yang bekerja sebagai perias pengantin sang wanita tercinta
Nabi Muhammad SAW yang tercatat sebagai seorang perempuan pedagang sukses pada
jaman nabi yakni Khadijah binti Khuwailid.
Al-Syifa’
, seorang perempuan yang pandai menulis, di tugaskan oleh Khalifah Umar ra
sebagai petugas yang menangani pasar kota madinah.(M. Qhuraish Syihab,
2007:306)
Tidak
semua ragam pekerjaan yang ada pada masa kini telah ada di masa Nabi Muhammad
SAW.
Namun,
Sesungguhnya islam secara ideal – normatif
tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan, apalagi
mendeskriminasikan perempuan. Bahkan sebagai pembawa keselamatan dan kerahmatan
seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin), sebab islam menempatkan pengangkatan
derajat dan posisi perempuan sebagai bukti keutamaannya (KH. Husein Muhammad ,
2007:XIII) sebagaimana hadits yang telah di riwayatkan oleh Bukhari yang
termaktub dalam kumpulan hadist 101 yang artinya :
Seorang lelaki datang menghadap Nabi saw. Seraya
bertanya : Ya Rasulullah! Siapakah gerangan yang patut aku gauli dengan baik ?
Jawab
nabi : Ibumu !
Tanya
orang itu pula : siapa lagi ?
Jawab
nabi : Ibumu !
Tanya
orang itu pula : siapa lagi ?
Jawab
nabi : Ibumu !
Tanya
orang itu pula : siapa lagi ?
Jawab
nabi : kemudian ayahmu
Dahulu
perempuan yang hidup pada masa jahiliyah tidak di hargai, dengan kedatangan
islam mendapatkan tempat terhormat, memperoleh pendidikan dan terbukanya
kesempatan yang lebih luas untuk aktualisasi dan pengembangan diri.
Karena itu wanita muslimah ditengah masyarakat Islam
memiliki peranan yang sangat penting tetapi sesuai dengan bingkai yang telah
digariskan oleh Islam. Dalam kata lain peranan itu tidak bertentangan dengan
kodratnya sebagai wanita yang dalam susunan biologis dan nilai-nilai
kejiwaannya berbeda dgn laki-laki. Tanpa memandang sisi tersebut tentu tidak
akan tampak perbedaan mencolok antara pria dengan wanita.
Inilah yang harus lebih kita ketahui dan jangan
sampai ada salah kaprah sebab kebebasan perempuan dan hak-haknya dilindungi
oleh negara dan agama bukan untuk disalahgunakan tapi dipergunakan dengan baik.
Kita tidak dapat menyalahkan laki-laki sepenuhnya sebab ada kasus dimana
seorang wanita rusak gara-gara mereka, jangan langsung menyalahkan kaum Adam,
karena terkadang dari wanitanya sendiri juga berbuat hal-hal yang mengundang
seorang lelaki melakukan hal yang tak diinginkan, dengan demikian wanita serta
merta kehilangan kodrat kewanitaannya. Dan pada akhirnya wanita tidak lagi
menempati kedudukan khusus dan mulia dipandang dari sisi kodratnya, sebaliknya
malah nilai-nilai kewanitaannya akan dicibir dan dihinakan.
Memuliakan wanita secara hakiki hanyalah dengan mengembangkan
potensinya sesuai dengan kodrat kewanitaannya. Jika tidak maka ukuran itu akan
menjadi berbalik seratus delapan puluh derajat. Jangan heran jika nanti
kekuasaan berada ditangan kaum hawa atau bahkan mereka menolak untuk mengandung
dan menyusui anaknya sendiri sebagai bentuk pertunjukan kejantanan kepada sang
suami. Serta akan menjadi wajar pula seperti saat ini banyak kita temui, jika
laki-laki hanya menjadi penunggu rumah, mengatur dan membersihkannya serta menyediakan makanan sambil
menunggu istrinya pulang kerja.
Kita semua tahu peran wanita memang banyak
dibutuhkan, mulai dari kehidupan berkeluarga hingga bermasyarakat. Hakikatnya,
wanita memiliki tugas yang lebih berat dari laki-laki, wanita yang seorang
multifungsi tidak hanya sekedar mampu melahirkan, tapi juga membesarkan dan
mendidik anak-anak. Pekerjaan rumah tangga yang menggunung dapat diselesaikan
wanita dengan telaten, ia juga bisa mengerjakan pekerjaan laki-laki dan
laki-laki belum tentu bisa mengerjakan pekerjaan wanita.
Hanya saja,
wanita tetap harus mengerti bahwa bagaimanapun pintarnya ia atau tangguh
sekalipun, dia tetap seorang wanita yang membawa beban kodrat masing-masing.
Dalam budaya islam sosok wanita di pandang sebagai kaum yang lemah lembut yang
dengan tutur kata sahajanya saja mampu menjadi penyejuk dalam rumah tangga,
namun jangan heran dengan kehidupan masyarakat berbudaya dan masih
mempersoalkan sesosok wanita yang juga memiliki kegiatan di luar rumah ,
beragam kekhawatiran bahkan nasihat bahwa jika kelak seorang wanita menikah
sebisa mungkin jangan sampai bekerja melebihi pekerjaan suami, apalagi dalam
hal peruntungan hasil kerja yang melebihi pendapatan suami, hal itu masih di
percaya dapat mengakibatkan percekcokan rumah tangga dengan alasan telah banyak
kejadian seorang istri yang memilki pendapatan lebih banyak dari seorang suami
maka hal tersebut akan membuatnya
berkuasa. Padahal masalah rizqi, jodoh, dan mati tetap Allah yang mengatur.
